Tidak Disukai Menyembunyikan Harta untuk Berpura-pura Miskin

Shohabiyah

– Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ia berkata bahwa kami pernah keluar bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pada sebuah peperangan Bani Anmar. Ketika saya berteduh di bawah sebuah pohon, tiba-tiba Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam datang. Aku berkata, “Wahai Rasul, kemarilah untuk berteduh.” Rasulullah pun ikut berteduh, aku lalu bangkit menuju pelana milik kami untuk mencari sesuatu di dalamnya, di sana aku menemukan mentimun kecil, lalu aku membelahnya dan memberikannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bertanya, “Dari mana kalian temukan ini?” Aku menjawab, “Kami membawanya dari Madinah wahai Rasul.”


Jabir berkata, pada saat itu ada seseorang yang ditugasi menjaga barang-barang kami. Aku menyiapkan bekal untuknya. Kemudian ia pergi di tengah hari dengan mengenakan dua kain yang telah lusuh. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memandang kepadanya sambil berkata, “Adakah pakaian untuk selain ini?” Aku berkata, “Iya wahai Rasul, ia punya dua pakaian yang sekarang berada dalam tasnya.” Rasulullah berkata, “Suruhlah ia mengenakannya.”


Jabir berkata, “Aku pun memerintahkan laki-laki itu untuk mengenakannya, setelah itu ia beranjak pergi.” Beliau berkata, “Celaka, bukankah itu lebih baik baginya?” laki-laki itu mendengar ucapan beliau, ia berkata, “Wahai Rasul, apakah di jalan Allah?” Beliau bertanya, “Di jalan Allah?” Ternyata laki-laki itu benar-benar terbunuh di jalan Allah. 1)


Di sini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur dan mengingkari pakaiannya yang kumuh padahal ia masih memiliki pakaian yang lain, karena kekumuhan itu mengantarkan ia sendiri kepada kehinaan, dengan mengatakan, “Maa lahu, dharaballahu unuqahu. Artinya, celaka, semoga Allah menebas lehernya.” Al-Barij mengatakan kalimat ini sering diucapkan oleh orang-orang Arab untuk mengingkari sesuatu, ia tidak bermaksud mendoakan kecelakaan. Namun lelaki itu mengambil kesempatan dengan menjadikan ungkapan Rasulullah ini sebagai doa, karena itu ia berharap agar mati di jalan Allah, dan ia benar-benar mati di jalan Allah, dan ini merupakan tanda-tanda kebesaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. 2) – []


Malik dalam Al-Muwaththa” dan Mu’aliq kitab Al-Jami (10/661) berkata bahwa sanad hadits ini terputus, karena riwayat Zaid bin Aslam mursal, Al-Hakim menyambungnya melalui hadits Zaid bin Aslam dari Atha bin Yasar dari Jabir dengan sanad yang hasan. Juga dikeluarkan oleh Al-Bazar melalui sejumlah sanad yang salah satu rijalnya adalah rijal hadits yang shahih.

Syarah Al-Muwaththa’ oleh Az-Zarqani (5/269)


(Sumber : Kitab Adab berpakaian dan Berhias, Penulis : Syaikh Abdul Wahab Abdussalaam Thawilah, Penerbit : Pustaka Al Kautsar, Penerjemah : Abu Uwais & Andi Syahril) –

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan