Inilah Amalan Spesial Bulan Muharram

PPPA Daarul Quran Bogor

Adakah amalan khusus di Bulan Muharam sebagai bulan pertama dalam kelander Hijriyah?  Dalam setahun terdapat bulan, hari, dan saat tertentu yang memiliki keutamaan. Yaitu berlipat pahala amalannya atau mustajab doanya. Keistimewaan bulan, hari, dan saat khusus ini merupakan hak prerogatif Allah, sebagaimana firman-Nya:


“Dan Rabb-mu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya” (QS. Al-Qashash: 68).


Muharram adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriyah. Bulan ini sarat dengan ladang beramal dan pahala.


Abu Utsman an-Nahdi (Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib 6/249) mengatakan: “Adalah para salaf mengagungkan tiga waktu dari 10 hari yang utama: 10 hari terakhir Ramadan, sepuluh hari pertama Zulhijah, dan sepuluh hari pertama Muharram.” (Lathoiful Ma’arif hal. 80)


Nah, amalan-amalan sunnah yang mengistimewakan Muharram adalah: 


Pertama: Puasa 


Rasulullah SAW berpesan: "Puasa paling afdal setelah puasa Ramadan adalah puasa Muharram (HR. Muslim: 1982)."


Maksud hadis ini adalah memperbanyak puasa sunnah, utamanya ketika hari ‘Asyura (10 Muharam). Namun, jangan berpuasa sebulan Muharam penuh, karena Rasulullah Saw juga tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali pada Ramadan (HR Bukhari: 1971, Muslim: 1157; Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi 8/303).



Ustaz Ahmad Kosasih anggota Dewan Syariah Daarul Quran. (Foto: istimewa)


Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata: “Ini adalah puasa yang paling afdal bagi orang yang hanya berpuasa pada bulan ini saja, sedangkan bagi yang terbiasa berpuasa terus pada bulan lainnya yang afdal adalah puasa Daud.” (Kitab as-Siyam Min Syarhil U’mdah, Ibnu Taimiyyah 2/548)


Kedua: Memperbanyak amalan shalih 


Sebagaimana perbuatan dosa pada bulan ini akan dibalas dengan dosa yang besar, maka begitu pula perbuatan baik. Amal saleh pada bulan ini menuai pahala besar (at-Tamhid, Ibnu Abdil Barr 19/26, Fathul Bari, Ibnu Hajar 6/5). 


Misalnya, menyantuni anak yatim, memberi makan santri penghafal Alquran dan sebagainya.


Ketiga: Taubat


Maknanya kembali kepada Allah dari perkara yang Dia benci secara lahir dan batin menuju kepada perkara yang Dia senangi. Menyesali atas dosa yang telah lalu, meninggalkan seketika itu juga, dan bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Taubat berlaku seumur hidup.


Kewajiban seorang muslim bila terpeleset dalam dosa dan maksiat untuk segera bertobat, tidak menunda-nundanya, karena dia tidak tahu kapan kematian akan menjemput. Karena perbuatan jelek biasanya akan mendorong untuk mengerjakan perbuatan jelek yang lain. Apabila berbuat maksiat pada hari dan waktu yang penuh keutamaan, maka dosanya akan besar pula, sesuai dengan keutamaan waktu dan tempatnya. Maka bersegeralah bertobat kepada Allah SWT. (Majmu Fatawa 34/180 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)


Penulis: Dio Suroso berdasarkan penjelasan Ahmad Kosasih MA (Dewan Syariah Daarul Quran)

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan