3 Makna Lebih Baik dari Seribu Bulan Malam Lailatul Qadar
Eramuslim.com

Eramuslim – Allah berfirman dalam Surah Al Qadr ayat 1-3 yang artinya, “Aku turunkan Alquran pada malam Lailatul Qadar, dan apakah itu malam Lailatul Qadar? Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. al-Qadar: 1-3)


Lalu apa sebenarnya makna Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan? Dikutip dari laman Lirboyo pada Rabu (13/5/2020), jika melihat secara tekstual, yang dimaksud seribu bulan adalah 83 tahun.


Namun kebanyakan kalangan ahli tafsir memiliki pandangan lain jika yang dimaksud dengan “lebih baik dari seribu bulan” adalah seribu bulan yang tanpa Lailatul Qodar di dalamnya.


Adapula yang mengatakan jikalau “seribu bulan” dalam Surat Al-Qadr adalah sebuah bahasa majaz untuk menyampaikan waktu yang tak terbatas, sesuai kebiasaan dalam literatur Arab. Orang Arab biasa menggunakan kata seribu, namun maksudnya adalah bilangan yang sangat banyak hingga tak mampu dihitung.



Lebih lanjut perlu diketahui, selain lebih baik dari seribu bulan, keutamaan lain dari malam Lailatul Qadar adalah pada waktu itu para malaikat turun ke dunia atas kehendak Allah SWT.


Kemudian malaikat akan mendoakan dan mengamini siapa saja orang mukmin yang ditemui tengah berdoa atau beribadah kepada-Nya.


Amalan apapun yang dilakukan di malam Lailatul Qodar ini, akan dilipat gandakan pahalanya. Sesuai yang disampaikan Imam Sufyan Al-Sauri, “Sampai kepadaku dari Mujahid RA. bahwa malam Lailatul Qodar lebih baik dari seribu bulan. Yaitu, amalan-amalan, puasa, dan ibadah yang dilakukan pada malam itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Tafsir Ibn Katsir, VIII/427)


Artinya mulai dari salat tarawih yang kita lakukan, salat tahajud, witir, hajat, dan bacaan Alqurannya, semua lebih baik daripada seribu bulan. Dalam salah satu hadis disebutkan:


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ – أَيْ الْعَشْرُ الْأَخِيرَةُ مِنْ رَمَضَانَ – شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (متفق عليه)


“Nabi SAW apabila sudah memasuki sepuluh –maksudnya sepuluh hari terakhir Ramadhan- beliau ‘mengencangkan ikat pinggangnya’, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhori dan Muslim) Wallahua’lam (okz)

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan