Bersyukur

Muhibban Jamil




Salah satu nasihat baik yang sering kita dengarkan adalah bersyukur. Kata syukur sering diucapkan orang-orang untuk mengingatkan orang lain maupun menenangkan diri sendiri. Rasa iri, dengki, merasa selalu kekurangan dapat membuat kita lepas kendali. Dengan syukur, kita dapat mengendalikan penyakit hati tersebut dan menerima segala keadaan yang ada pada diri kita.


Namun, mengucap kata syukur tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang, keserakahan dan keegoisan untuk memenuhi hasrat duniawi lebih diutamakan. Padahal, sebagai manusia kita tidak boleh lupa bahwa semua hal duniawi yang kita incar hanyalah titipan. Apa yang telah Allah berikan kepada kita, patut kita syukuri sebagai tanda kasih sayang-Nya kepada makhluknya.


Kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya. Namun, kebahagiaan akan menghampiri mereka yang terus bersyukur atas nikmat-Nya. Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.



Bersyukurlah saat sukses maupun gagal. Sesungguhnya kekayaan dan kebahagiaan sejati ada dalam diri seseorang yang bersyukur. Bahagia tidak ditandai dengan apa yang terlihat di sosial media. Bahagia ada di dalam hatimu, tentang seberapa besar syukur yang hatimu rasakan. Bersyukurlah bagaimanapun keadaanmu saat ini. Kebahagiaan dimulai dari rasa syukur yang selalu dipanjatkan.


الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف

“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut” (Lihat Ash Shahhah Fil Lughah karya Al Jauhari). Atau dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.

Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:


الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Madarijus Salikin, 2/244).


Lawan dari syukur adalah kufur nikmat, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Semisal Qarun yang berkata,


إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sungguh harta dan kenikmatan yang aku miliki itu aku dapatkan dari ilmu yang aku miliki” (QS. Al-Qashash: 78).


Syukur Adalah Sifat Orang Beriman

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” (HR. Muslim no.7692).


Tanda-Tanda Orang yang Bersyukur

Mengakui dan menyadari bahwa Allah telah memberinya nikmat, menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah, menunjukkan rasa syukur dalam bentuk ketaatan kepada Allah, Maka rasa syukur itu ditunjukkan dengan ketakwaan.


Image : https://images.app.goo.gl/H5EVhwz8EJjQD91A9


#30HariLebihProduktif

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan