Pakar Peringatkan Virus Dapat Lawan Vaksinasi

Republika.co.id


Menurut pakar, keberadaan vaksin bukan akhir segalanya.


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang ahli penyakit menular asal Bangalore, India bernama Gifty Immanuel mengatakan, virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan penyakit Covid-19 dapat melakukan perlawanan terhadap vaksinasi. Ia mengingatkan bahwa satu-satunya yang dianggap sebagai perlindungan untuk mengakhiri pandemi yang tengah terjadi mungkin tak akan sepenuhnya efektif.


Immanuel mengatakan, meski telah dilakukan kerja sama luar biasa untuk mengamankan kandidat vaksin yang layak dalam waktu kurang dari 12 bulan, tetap ada potensi ‘jebakan’ yang tak dapat diabaikan ke depan. Ia menyebut ini terkait dengan sistem kekebalan manusia.


Menurut Immanuel, virus akan melawan upaya vaksinasi dan dapat menciptakan mutan yang lolos dari vaksin, termasuk strain lebih ganas. Ia menekankan masalah pemusnahan cerpelai yang belum lama ini dilakukan di Denmark, setelah hewan itu ditemukan menjadi inang virus corona jenis baru yang jauh lebih kuat.


Immanuel mengatakan, peristiwa zoonosis semacam ini tidak dapat dikesampingkan dan dapat sepenuhnya menghancurkan upaya yang dunia miliki saat ini. Penelitian untuk vaksinasi Covid-19 telah dilakukan dengan sangat cepat dengan tingkat kolaborasi dan persaingan antara badan ilmiah dan perusahaan farmasi dilakukan selama setahun terakhir.




Vaksin Covid-19 generasi pertama kemungkinan besar belum sempurna. - (Republika)


Menurut Immanuel, "booster jabs" alias dosis penguat yang dibutuhkan tahun demi tahun dapat menyebabkan virus bermutasi serta pasti akan menjadi resisten. Hal ini juga mengarah pada risiko teoretis peningkatan antibodi, di mana saat seseorang tertular sesuatu untuk kedua kalinya, kondisi dapat menjadi lebih parah dibandingkan yang pertama, seperti demam berdarah.


Pernyataan Immanuel muncul ketika pembuat kandidat vaksin virus corona dari Universitas Oxford, Inggris melaporkan tanda-tanda peningkatan tentang bagaimana vaksinasi bekerja pada orang dewasa yang lebih tua, setelah uji coba Fase Da dilakukan. Hasil studi dari tim Universitas Oxford menunjukkan kandidat vaksin yang terbuat dari virus simpanse yang dimodifikasi -tampaknya lebih dapat ditoleransi pada orang dewasa lebih tua, dibandingkan orang dewasa yang lebih muda.


Vaksin itu disebut aman dan dapat ditoleransi dengan baik serta memiliki profil reaktogenisitas yang lebih rendah pada orang dewasa lebih tua daripada pada orang dewasa lebih muda.


"Jika tanggapan ini berkorelasi dengan perlindungan pada manusia, temuan ini menggembirakan karena orang yang lebih tua berada pada risiko Covid-19 parah yang tidak proporsional sehingga setiap vaksin yang diadopsi untuk digunakan melawan SARS-CoV-2 harus efektif pada orang dewasa yang lebih tua,” tulis studi tim Oxford yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, seperti dilansir NZ Herald, Jumat (20/11).


Penemuan ini berarti vaksin yang dikembangkan oleh Universitas Oxford dan AstraZeneca menghasilkan lebih sedikit efek samping pada orang-orang berusia 56 tahun ke atas dibandingkan pada orang dengan umur lebih muda. Vaksin tersebut saat ini sedang menjalani uji coba Fase Tiga yang lebih besar dan komprehensif untuk mengonfirmasi hasil.



Perbedaan vaksin, vaksinasi, dan imunisasi - (Republika)

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan