Bolehkah Membatalkan Niat Haji Kedua?

Rumah Fiqih Indonesia



Pertanyaan :

Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh.


Ustadz, saya seorang istri yang sudah berhaji dua kali. Dulu saya berhaji sebelum menikah. Nah, setelah menikah, saya dan suami merencanakan dan menabung untuk pergi haji bersama (suami saya belum pergi haji).


Namun, setelah beberapa waktu, dengan berbagai pertimbangan, terutama pertimbangan fiqh prioritas tentang penggunaan dananya, saya membatalkan niat saya untuk haji lagi. Yang saya tanyakan, bolehkah saya membatalkan niat haji seperti itu?


Dan kalau boleh, apakah uang yang tadinya dianggarkan untuk haji saya harus digunakan untuk ummat? Atau boleh digunakan untuk keperluan keluarga?


Terima kasih ustadz..


Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Berhaji adalah salah satu rukun Islam, dimana seorang yang mampu melakukannya punya beban kewajiban untuk menjalankan ibadah haji, minimal sekali saja dalam seumur hidup.


Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita, meski sempat beberapa kali mengadakan perjalanan ke tanah suci Mekkah, namun beliau SAW tidak melakukan haji berkali-kali. Dalam seumur hidupnya, beliau ternyata hanya sekali saja melakukan ibadah haji, tidak tidak tahun dan juga tidak melakukannya berulang-ulang.


Namun demikian, bukan berarti terlarang bagi seseorang untuk mengerjakan ibadah haji beberapa kali. Karena beberapa shahabat Nabi bahkan istri-istri beliau pun sempat mengerjakan ibadah haji beberapa kali sepeninggal beliau SAW.


Membatalkan Niat Haji


Asalkan ritual ibadah haji belum dimulai dan seseorang belum lagi berangkat menuju tanah suci dan melewati batas miqat, maka boleh saja pada dasarnya untuk membatalkan niat berhaji. Tidak ada denda atau hukuman dari pembatalan itu.


Apalagi mengingat bahwa ibadah haji yang dilakukannya bukan haji Islam. Maksudnya haji Islam adalah haji yang pertama kali dan berniai kewajiban dasar. Haji yang berikutnya berstatus sunnah, kalau mau dikerjakan silahkan, tetapi kalau tidak mau dikerjakan tentu tidak menjadi dosa atau kesalahan.


Skala Prioritas


Apalagi bila kita sadar bagaimana seharusnya kita punya skala prioritas dalam urusan haji, maka pilihan untuk tidak pergi haji lagi menjadi nilai kebaikan tersendiri.


1. Memberi Kesempatan Buat Orang Yang Belum Haji


Dengan membatalkan niat haji sunnah, maka pada dasarnya kita telah banyak mendapat pahala. Hal itu lantaran kita memberi kesempatan quota haji bagi mereka yang pada dasarnya belum pernah berangkat haji, namun terhambat karena adanya pembatasan jumlah jamaah haji.


Pemerintah Saudi Arabia punya kesepakatan dengan negara-negara anggota Konferensi Islam (OKI), bahwa masing-masing negara diberi 'jatah' mengirim jamaah haji sebanyak seperseribu (1/1000) dari jumlah penduduk muslim.


Jadi misalnya jumlah umat Islam di Indonesia ada 200 juta, maka yang diberi jatah hanya sekitar 200 ribu orang jamaah saja. Jumlah ini sebenarnya sudah cukup besar, bahkan paling besar dibandingkan dengan negara manapun di dunia ini.


Namun percaya tidak percaya, panjang antrian atau daftar waiting list untuk haji di DKI Jakarta mencapai 10 tahun ke depan. Jadi kalau seorang warga DKI Jakarta tahun ini (2013) mendaftarkan diri untuk berhaji, maka kemungkinan bisa berangkat karena harus menunggu giliran antrian adalah nanti di tahun 2023.


Tentu panjang antrian bisa lebih pendek manakala jumlah mereka yang mengantri dikurangi. Dan salah satu cara mengurangi jumlah antrian adalah ketentuan bahwa mereka yang sudah pernah berhaji, tidak boleh berhaji kembali.


Tentu niatnya bukan karena ingin menghalangi orang beribadah haji, tetapi karena ingin memberi kesempatan kepada yang lain untuk bisa segera berhaji.


2. Mensedekahkan Harta Buat Yang Lebih Tepat dan Membutuhkan


Manfaat kedua kalau kita batalkan niat haji sunnah adalah kita bisa lebih mengoptimalisasi dana yang kita punya untuk hal-hal yang barangkali lebih tepat guna dan lebih mengena sasaran.


Bukan mengecilkan nilai ibadah haji di tanah suci, namun memang biaya hajj itu cukup mahal. Minimal seseorang harus punya uang 35 juta. Itu minimal sekali, dalam arti di tanah suci sana kerjanya cuma ngaji melulu.


Ketika orang-orang ramai ke pasar membeli berbagai macam keperluan, termasuk oleh-oleh dan souvenir, para jamaah yang kurang mampu hanya bisa gigit jari sambil menahan rasa iri.


Maka biasanya, walaupun sampai berhutang kesana kemari, umumnya jamaah haji membawa bekal uang belanja lebih. Seolah-olah memaksakan diri untuk menambah jumlah bekal, sampai akhirnya boleh jadi jumlah uang bekalnya malah lebih besar dari ONH-nya sendiri.


Semua itu sudah terjadi secara otomatis, bahwa siapa saja yang berangkat haji, nyaris tidak bisa tidak, dia harus bawa punya uang lebih, meski didapat dari berhutang. Sesuatu yang sebenarnya agak kurang mencerminkan sikap yang baik. Namun seolah sudah jadi tradisi.


Oleh karena itu yang lebih utama adalah batalkan niat haji yang hukumnya cuma sunnah, lalu uangnya lebih baik disedekahkan, dizakatkan, diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, para janda yang tidak punya harta dan seterusnya.


Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Ahmad Sarwat, Lc., MA

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan