Nabi Yusuf AS Tak Sekadar Mentakwilkan Mimpi Sang Raja

kalam.sindonews.com

Nabi Yusuf tidak hanya mentakwilkan mimpi sang raja tetapi memberi solusi langkah-langkah strategis untuk mengatasinya. Foto/Ilustrasi: Ist


Nabi Yusuf adalah putra Nabi Ya’qub AS, kakeknya adalah Nabi Ishak AS, dan kakek buyutnya adalah Nabi Ibrahim AS. Jadi nama lengkap beliau adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.


Allah mengisahkan tentang perjalanan hidup Nabi Yusuf kepada Nabi Muhammad SAW di dalam surat Yusuf. Bahkan seluruh isi surat itu menceritakan tentang Nabi Yusuf. Kini, kisah Nabi Yusuf bisa menjadi pelajaran berharga tatkala dunia mengalami masalah ekonomi yang kronis menyusul serangan virus corona.


Nabi Yusuf AS adalah seorang ekonom yang ulung dan futuristik. Seperti tercermin oleh sikapnya menafsirkan mimpi raja.


وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ


Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering". Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi ". ( QS Yusuf 43 )


Bagi para ahli nujum dan cendekiawan di lingkungan raja, mimpi tersebut hanyalah mimpi biasa, yang memberi gambaran tentang masa depan tanpa tahu seperti apa.


Tapi bagi Nabi Yusuf, mimpi sang raja adalah indikator ekonomi yang memiliki nilai prediktif. M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah menjelaskan, menurut Nabi Yusuf mimpi itu sebagai isyarat bagi raja agar mengambil langkah-langkah menyelamatkan masyarakat dari krisis pangan.


Pada masanya, mimpi bisa menjadi salah satu sumber pengetahuan yang dibenarkan. Namun dalam konteks ini, mimpi sang raja merupakan indikator-indikator ekonomi yang hanya bisa dipahami oleh para ahli ekonomi. Dan kemampuan itu ada pada Nabi Yusuf.


Reputasi futuristik Nabi Yusuf sudah terbentuk sejak kecil ketika ia menyatakan mimpinya kepada ayahnya. Dan terasah dengan baik ketika di penjara.


Pribadinya yang jujur dan amanah membuatnya menjadi orang yang dipercaya. Tidak mungkin seorang raja akan percaya pada seseorang yang tidak kompeten atau diragukan reputasinya, baik keilmuan maupun kualitas personal.


Langkah Strategis


Nabi Yusuf AS tidak hanya mentakwilkan mimpi sang raja tetapi memberi solusi langkah-langkah strategis untuk mengatasinya.


Itu yang memukau sang raja. Nabi Yusuf menawarkan langkah-langkah—yang bukan hanya mudah dimengerti—tapi juga implementatif.


قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ


Yusuf berkata: ‘Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai (petik) hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. ( QS Yusuf 47 ).


ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ


Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang akan kamu simpan . ( QS Yusuf 48 ).


ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ


Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa mereka memeras anggur.” ( QS Yusuf 49 ).


Langkah-langkah yang ditawarkan Nabi Yusuf AS bukan hanya kebijakan yang menyangkut pemerintahan namun juga masyarakat sebagai pelaku ekonomi.


Strategi efisiensi produksi dan konsumsi menjadi langkah pertama diiringi dengan saving (penghematan) dan membangun lumbung pangan untuk menghadapi masa krisis pangan yang dikabarkan oleh alam.


Sikap Profesional


Melihat reputasi Nabi Yusuf yang sedemikian tinggi, sang raja langsung terpesona dan bertitah untuk mengangkatnya menjadi pejabat tinggi negara, semacam penasehat raja.


Namun Nabi Yusuf mengetahui kapasitas dirinya. Maka dia memilih salah satu profesi yang sesuai kompetensinya yaitu bendahara negara.


M. Quraish Shihab memaparkan dengan apik bahwa kata hafidh didahulukan dari kata alim, menunjukkan bahwa pemeliharaan amanah lebih utama dari sekadar ilmu atau kompetensi. Dalam profesionalitas mengandung dua hal tadi: amanah dan pengetahuan.


وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي ۖ فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ


“ Dan raja berkata: ‘Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.’ Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami .’ ( QS Yusuf 54 ).


قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ


Berkata Yusuf. ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.’” ( QS Yusuf 55 )


Ibnu Katsir menerangkan Nabi Yusuf minta pekerjaan tersebut karena ia tahu kemampuan dirinya di samping bahwa pekerjaannya itu mendatangkan maslahat bagi orang banyak.


Bendaharawan negara yang menguasai gudang penyimpanan hasil bumi sebagai persediaan untuk menghadapi tahun-tahun paceklik yang sulit seperti yang diceritakannya.


Dengan itu ia dapat berbuat dengan cara yang lebih hati-hati, lebih baik, dan lebih tepat bagi mereka. Lumbung pangan adalah kunci kehidupan masa paceklik, oleh karena itu harus dikelola oleh orang yang amanah dan profesional. Jangan sampai hajat hidup orang banyak dirusak oleh para tikus berdasi yang tidak memiliki hati.


(mhy)

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan